Pengembangan Kecerdasan Anak Usia Dini melalui Musik, Gerakan, dan Tarian

Oleh: Dewi Utama Faizah

If you can talk, you can sing
If you can walk, you can dance
(zimbabwe proverb)

Kata Kunci: Musik, Gerakan, Tarian

Teori Pendukung
Multiple Intelligence (Howard Gardner)
Developmentally Approriate Practice (Sue Bredekamp)

Penting diingat bahwa:
• Anak bukanlah manusia kecil yang suka duduk diam tak bersuara
• Anak adalah manusia kecil yang pemalu
• Anak adalah manusia kecil yang sangat egois
• Anak adalah manusia kecil yang suka dipuji, dibanggakan, selalu ingin dipentingkan
• Anak adalah manusia kecil pemimpi besar
• Anak adalah manusia kecil yang penuh kelembutan
• Anak adalah manusia kecil yang suka memulai (beginners)
• Anak adalah manusia kecil yang selalu haus akan stimulasi
• Anak adalah manusia kecil yang selalu bau keringat, bau tanah, sederhana, praktis, dan konkrit
• Anak adalah manusia kecil yang penuh kerelaan dan keikhlasan
• Anak adalah manusia kecil yang butuh dibaca dan membaca (illiterasi dan literasi)

Prolog

Musik dan Gerakan adalah kegiatan yang menyenangkan dan memiliki nilai-nilai (values) bagi semua anak usia dini. Oleh karena mereka senang bergerak.

Bernyanyi, berputar-putar, dan menari bukan hanya menyenangkan, namun juga memberi kesempatan kepada mereka untuk mendengar, bereaksi, meniru, belajar menggunakan suara, belajar menggerak-gerakkan jari-jemari, tangan, lengan, dan tubuh untuk bergoyang dan bergerak dengan cara mereka yang kreatif dan unik.

Jika kita memahami bagaimana gaya dan kondisi anak seperti yang tertulis di atas, maka orientasi pembelajaran mereka tentu akan memfasilitasi semua aspek tersebut agar bisa dikembangkan seoptimal mungkin. Pendekatan dan sikap para pendidik akan mengarah kepada pemberdayaan kegiatan terkait dengan bermusik dan bergerak. Baik yang dilakukan di dalam ruangan maupun yang dilakukan di alam terbuka. Menari, gerakan ritmik, dan kegiatan bernyanyi semuanya itu membutuhkan ruangan luas agar anak leluasa bergerak.

Intinya program untuk anak usia dini harus banyak bergerak, tidak diam dan hening saja di dalam ruangan. Cain mengistilahkan duduk diam dan hening itu sebagai kecakapan yang tidak memiliki daya juang dan daya jual.

Anak yang pemalu membutuhkan peluang menggunakan alat musik dalam kelompok kecil yang mampu membuatnya nyaman (safe personal cluster). Apabila anak yang pemalu masih saja menunjukkan kegelisahan dan bernyanyi dengan malu-malu di kelompok amannya, maka berarti ia belum siap bersama kelompok besar di kelas.

Sementara anak yang egosentris akan menampilkan sikap yang heboh dan suka mengambil perhatian dan menyela dengan ungkapan kegembiraan yang meluap-luap, seperti “liat kelinci kecilku lucu sekali..... aku bisa terbang seperti kupu-kupu bu guru”. Mereka akan memulai semua kalimat dengan kata-kata “aku---saya---“. Seorang guru harus peka bereaksi dengan anak-anak yang egosentris ini. Beri mereka waktu untuk menjelaskan dan dengarkan apa yang mereka sampaikan.
Tujuan anak-anak bermusik dan bergerak adalah untuk bergembira. Melalui kegiatan itu mereka mengekspresikan emosi mereka, bereksplorasi dengan ruang, meningkatkan kemampuan berbahasa dan kecakapan berkomunikasi. Meningkatkan kepedulian sensori melalui ritmik, bahasa tubuh, waktu, dan ruang.

Pentingnya Musik dan Gerakan

Ada 4 (empat) alasan akan pentingnya musik dan gerakan di dalam pengembangan pendidikan anak usia dini. Hal itu terkait dengan:

1. Kapasitas mental dan intelek. Ada kaitan erat antara musik dan gerakan dengan berpikir logika dan matematika. Konsep matematika akan mudah diserap otak anak jika dilakukan sambil bernyanyi dan menggerakkan tubuh. Contoh lagu Bu Kasur dan Pak Kasur yang beroorientasi pada aspek kognitif logika-matematika.

2. Penguasaan pisik secara pribadi. Anak membutuhkan pengembangan dan koordinasi antarotot yang mereka miliki. Mereka tahu kenapa kakinya bisa berlari kenapa tidak. Tahu tangannya bisa bergerak dan bisa melakukan banyak hal seperti halnya juga kaki. Penguasaan tentang tubuhnya secara pribadi dalam berlari, keseimbangan, merangkak, meloncat dan meregang harus dikuasai dengan baik.

3. Pengembangan aspek afektif. Melalui musik dan gerakan anak mudah menyampaikan ekspresi, membawa suasana hati dan merubah perasaan dan emosi. Misalnya lagu-lagu Pak AT. Mahmud dan Pak Dal lebih beroorientasi padaa aspek sosial emosi yang melenturkan hati anak.

4. Pengembangan kreativitas. Musik membawa anak pada dunia imajiner yang memicu tumbuhnya kreativitas. Sebuah kaleng bekas roti akan menjadi drum yang dengan asyiknya dipukul anak sebagaimana halnya menabuh drum. Sapu akan menjadi gitar atau kuda yang bisa ditunggangi kian kemari.

Seorang guru memiliki ketajaman dan kepekaan dalam mengamati tingkah polah anak-anak yang suka mengkhayalkan ia bisa terbang sebagai kupu-kupu. Terbang dari bunga-bunga kian kemari. Ajarkan mereka melakukan gerakan kupu-kupu melalui tarian kupu-kupu sambil diiringi musik sederhana yang ada dan bisa dikuasai oleh guru.

Perhatikanlah, betapa anak suka sekali mengulang-ulang gerakan, mengulang lagu dan iramanya. Di dalam gerakan pun mereka juga suka mengulang-ulang. Alat bermain seperti ayunan, plosotan, dan jungkitan serta putaran mangkok amatlah mereka sukai.

Musik dan Gerakan dalam Perspektif Kecerdasan

Anak peduli dengan musik dan gerakan dari semenjak usia sangat dini. Para pencipta mainan tahu itu dan mereka turut meramaikan bisnis mainan dengan alat mainan anak bernama music boxes, musical toys. Anak cepat sekali bereaksi dengan aneka mainan yang mengeluarkan bunyi dan membuat tubuh mereka ikut bergerak menyesuaikan diri. Pola ritmik dan ‘beats‘ cepat sekali dikuasai. Musik dan gerakan inilah satu aspek yang membuat pertumbuhan dan perkembangan pisik dan mental mereka melesat pesat. Salah satunya adalah pertumbuhan dan perkembangan berbahasa. Komunikasi melalui musik dan gerakan akan mempermudah mereka dalam meningkatkan dan mempeluas kecakapan berkomunikasi dengan lingkungannya. Anak bemain dengan kata-kata dan gerakan sehingga beats, tempo, aksen, sinkronisasi dalam berbahasa berkembang dengan pesat.

Musik dan gerakan sangat membantu anak dalam mengkonstruk pengetahuan. Oleh karena itu musik dan gerakan hendaknya masuk ke dalam kurikulum di TK menjadi sebuah kemestian melalui seni tari, seni menyanyi dan sebagainya. Gardner dengan indah melukiskan bagaimana musik sebagai sebuah kreativitas merasuki tubuh dan jiwa anak sebagai sebuah sensasi yang kemudian memicu kecerdasan, antara lain:

1. Kecerdasan Bermusik
Kecerdasan yang bertaut dengan kemampuan menerima, memproduk, dan mengapresiasi melodi dan ritmik. Melalui kegiatan bermusik anak-anak dikenalkan dengan dunia para komposer, performer, musisi, dan kondaktor yang akan menginspirasi hidup mereka ke depan kelak.

2. Kecerdasan Bodili Kinestetika
Kecerdasan yang bertaut erat dengan kemampuan bergerak dan meng”handle” objek dengan piawai melalui gerakan tubuh yang sempurna. Melalui kegiatan bermusik anak-anak dikenalkan dengan dunia para penari, koreografer, atlit, pantomim, ahli bedah, pengrajin, dan orang yang piawai menggunakan tangan dan kakinya.

3. Kecerdasan Logika Matematika
Seorang yang cerdas dalam bermusik dan menggerakkan tubuhnya adalah juga seorang yang cerdas dalam logika matematika. Oleh karena mereka memiliki sensitivitas, dan kapasitas berpikir dengan logika terkait dengan pola numerik seperti ritmik, meter, tanda waktu, not, kategori, dan hubungan antara apa yang didengar dengan keharmonian nada.

Tubuh anak adalah media untuk berekspresi. Saat tubuh itu digerakkan secara baik dengan latar berbagai irama musik maka aneka tarian yang sesuai dengan perkembangan tubuh dan jiwa mereka akan dengan mudah mereka tampilkan. Milyaran sel syaraf turut bergerak aktif. Pesan Gardner kepada para guru usia dini yang disampaikan dalam berbagai event konferensi internasional, bahwa musik dan gerakan merupakan anugerah Tuhan kepada manusia. Potensi kemanusiaan tersimpan di dalam tubuh yang memiliki 100 milyar sel otak yang perlu digerakkan. Kekuatan itu perlu dieksplorasi. “Kirimlah anak untuk bernyanyi dan menari, maka otaknya langsung aktif”. Sementara saat ini kita sebagai guru telah menghabiskan banyak pemikiran, uang, dan waktu hanya untuk membuat kurikulum, silabus, dengan menuangkan isi kurikulum ke dalam rancangan proses pembelajaran yang sangat berat dikerjakan. Sementara anak-anak dengan segala potensinya yang hebat terabaikan karena dunia administrasi TK yang telah menyita perhatian guru. Oleh karena itu RKM dan RKH dibuat sesederhana mungkin agar energi terfokus pada pelaksanaan kegiatan bersama murid-murid yang akan menyita 75% waktu dan energi guru.

Mulailah Merencanakan Kegiatan Musik, Gerakan, dan Tarian

Tak disangsikan bahwa anak memiliki kapabilitas yang perlu dialirkan. Jika menginginkan anak bisa bernyanyi dan menari, maka sediakanlah ruang di mana pengalaman itu bisa hadir dengan baik. Kenalkan aneka rupa alat-alat musik sederhana yang bisa dimainkan dan ajaklah mereka bernyanyi dengan lagu-lagu anak yang mudah untuk mereka dendangkan.

Indonesia memiliki aneka rupa budaya dengan aneka rupa lagu anak. Indonesia juga memiliki alat musik tradisi seperti angklung, rebana, seruling. Alangkah indahnya jika guru juga pintar memainkan alat-alat musik sederhana itu bersama murid. Begitu juga dengan aneka gerakan tari. Kita memiliki banyak sekali budaya tari dari berbagai suku-suku yang ada. Mulai dari tarian anak bertema dolanan untuk mencerdaskan aspek kognitif dan aspek sosial emosi. Para pendidik harus senantiasa melatih intuisinya peka dalam memberikan pelayanan kepada semua murid agar kegiatan ini berlangsung dengan baik dan berkualitas. Misalnya:

- Tingkatkan kontrol suara dan ritmik tubuh
- Dukunglah program kegiatan bermusik dan menari
- Ajak anak bernyanyi ala anak yang kata-katanya ia karang sendiri
- Ajak mereka menirukan gerakan aneka hewan, angin, mesin, dan sebagainya yang relevan dengan mereka
- Belajar memainkan jari-jemari sambil bernyanyi (fingerplays)
- Rancang pentas seni yang memadukan tari-nyanyi-drama
- Dan sebagainya

Menari adalah bagian dari energi yang bersatu dalam musik dan gerakan. Menari terkait erat dengan kepedulian terhadap kinestetika, kecerdasan tubuh, dalam mempertajam persepsi gerakan sebagai bagian dari pengalaman estetika. Semua tarian memiliki tiga aspek, yaitu: ruang (space), waktu (time), dan kekuatan (force ). Faktor lain yang mempengaruhi tarian adalah lokomotor yang mengatur gerakan sehingga mampu menampilkan gerakan dengan sempurna.

- Ruang (space). Anak membutuhkan ruang untuk dirinya secara pribadi dan ruang umum untuk menampilkan diri bersama teman-teman. Ruang pribadi terkait dengan gerakan lokomotor, meloncat, berlari, berputar-putar, jongkok, dan sebagainya.

- Waktu (time). Anak membutuhkan waktu bagaimana tempo dan ritmik hadir secara terkontrol dan berkualitas. Bagaimana gerakan cepat dan lambat bisa ia kuasai dalam gerakan menari. Anak belajar menaklukkan tempo dalam gerakan, sehingga irama musik dan gerakan akan berjalan harmoni. Makna waktu di sini adalah mereka mampu meraih kesempatan dalam menggerakkan tubuh sesuai dengan tempo waktu mampu bertaut harmoni dengan ritmik. Perlu diingat bahwa jangan ajarkan anak menari dengan menggunakan hitungan. Namun berikan waktu ia mengontrol tubuhnya bereksplorasi dengan ritmik dan ekspresi.

- Force (kekuatan). Konsep kekuatan terkait dengan gerak dan tari. Bagaimana ia berekspresi dengan suara, cahaya, ringan, berat, reaksi spontan, atau gerakan monoton yang dipengaruhi oleh kelenturan otot tangan, kaki, dan pundak. Anak yang mampu mengontrol perbedaan antara mendorong dan menarik, ringan dan berat akan melakukan gerakan tarian dengan asyik dan seimbang. Anak berlatih fokus dan berpusat pada kontrol diri dan emosi. Anak menggerakkan tubuh dengan cara seimbang, lembut, atau menghentak penuh dengan kekuatan yang mengalir dan terkontrol. Hal itu tidak mudah dilakukan oleh anak dan butuh waktu sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Musik pengiring akan memberi pengaruh dan kekuatan bagaimana ia menari dengan tempo cepat, lambat, dan menghentak. Inilah energi yang butuh dikontrol oleh rasa, dan gerakan.

- Lokomotor. Lokomotor terkait dengan kualitas gerakan melalui ruang (space). Berjalan, berlari, meloncat, dan sebagainya gerakan motorik kasar yang terlihat kasat mata. Sementara gerakan non-lokomotor lebih tenang seperti peregangan otot, memutar tangan, mengayun, bergoyang, memutar, dan melingkar.

Perkayalah kosa-kata anak yang bertaut dengan musik dan gerakan. Anak sebagai anak membutuhkan sebanyak mungkin perbendaharaan kata-kata yang berkait erat dengan konteks musik, dan gerakan. Hati-hati, jangan sampai mengajarkan kata-kata dan terminologi menari kepada anak di luar konteks.
“Anak mendefiniskan kegiatan menari seperti layaknya kegiatan bicara. Menyampaikan sesuatu dalam bahasa tubuh sebagaimana layaknya tubuh tengah berbicara”.

Eksplorasi Musik dan Tarian Melalui Kearifan Lokal

Musik adalah bahasa universal yang digunakan manusia di seluruh dunia. Melalui musik manusia menikmati kesenangan dan kegembiaraannya. Demikian pun anak. Seluruh anak-anak Indonesia melakukan kegiatan bernyanyi, bersenandung, bertepuk tangan, menari, bergoyang. Semua suku yang ada di Indonesia memilki aneka gerakan tarian dan nyanyian. Malah hampir dipastikan bahwa hubungan erat antara musik dan tarian tidak dapat dipisahkan. Musik, gerakan dan tarian menjadi bahasa universal, satu pandangan, satu kata dalam komunikasi melebihi makna dari aksara yang bertaburan di koran dan majalah.

“Musik, gerakan, dan tarian merupakan sejarah kinetik kemanusiaan”.

Selamat bereksplorasi dengan musik, gerakan dan tarian untuk masa depan Anak-Anak Indonesia yang Sehat, Cerdas di segala bidang penghidupan....

Jakarta, 26 Mei 22012
Disampaikan dalam rangka Workshop Seni Tari Untuk Anak Usia Dini yang diselenggarakan oleh DPP- GOPTKI

Dewi Utama Faizah

dari: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=450994348246066&id=100000065146873

3 comments:

  1. waaww,,tfr mba..boleh copas di blog?

    ReplyDelete
  2. oh, silakan mbak.. semua yg ada di kumpulan artikel ini boleh disebarluaskan, mmg niatnya syi'ar :) ini juga saya dpt dr berbagai sumber.. silakan, bebas aja :)

    ReplyDelete